Postingan

merancu dan bergumam tengah malam...

Yang aku tuliskan ini bukanlah makna, Hanya cerita, Menjelang waktu sang bulan beranjak ke peraduannya... Apa yang hendak ditulis? Bila rasa bahkan tak mampu memaknai eksistensinya... Tidak mencoba untuk merangkainya dalam indah sajak pujangga, Cukup bersahaja laksana tulusnya anak remaja memulai cerita Bukan tentang cinta, Enyah bilakah tulisan ini ternyata bermakna ke arah sana, Enyah, karena bukan itu makna yang seharusnya terkandung di dalamnya... Hanya lelah ketika apa yang membuat ada dan merasa ada,selalu berlalu layaknya kilatan cahaya, Sepersekian detik. Tidak layak, tidak layak. Agaknya harapan terlalu naif melupakan makna dasar itu. Makna tidak layak. Kesadaran, itu bukan sekarang! Lalu...ya itu lalu. Kenyataan, berbesarlah. Tidak layak. Terlalu naif harapan, tidak layak. Berlalulah, seperti biasanya. Tanpa apa,tanpa siapa,tanpa rasa. Cukup ada dan menjalani apa yang ada. Karena jika tidak, jika berharap, hanya akan kembali seperti sedia kala. Tidak layak. Mau apa? Tak ada b...

Tentang yang ada dan berlalu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Hanya dengan diam mampu kuurai setiap rasa. Cukup dengan diam, kupandangi kau yang berlalu. Memandang siluetmu yang kian menjauh, nanar. Kita tercipta, bukan untuk menyatukan makna. Hanya dalam rasa, yang tampaknya takkan pernah terucap bahkan jika sang waktu pun tlah menyerah mempermainkan kita. Penyair yang tlah mati, bangkit untuk guratkan takdir dengan tawa geli. Pada selembar kertas, hanya karena tak pernah saling berbalas. Satir. Melodi. Tragedi. Apalah mereka menyebutnya. Memutar kembali episode yang ada, tak pernah ada kunci, hanya persimpangan yang dapat kita temui. Memilih, berbeda, tak pernah ada ujung yang mempertemukan masing masingnya. Bila cinta mulai memainkan angkuhnya, kesederhanaan ikut memilih berganti rupa menjadi kerumitan. Kita sama, hanya tak pernah ada kesamaan makna, kamu pikir begini, aku pikir begitu, di saat ini, di saat itu. Tak pernah ada kesama...

Panggil saja, "Yara".

Hai, Perkenalkan, Aku si Penyuka Senja. Kau bisa memanggilku "Yara", bukan nama lengkapku, atau nama panggilan dari kedua orangtuaku maupun teman di sekelilingku. Aku hanya senang memanggil diriku demikian. Sebenarnya, kau boleh memanggilku sesukamu. Ah ralat, apapun, asal jangan "Dek", "Tia", ataupun "Ra". Aku benci panggilan itu. Kebahagiaan dan kesedihan selalu datang dalam satu paket bukan? Demikian pula yang aku rasakan saat mendengar panggilan yang demikian kepadaku. Aku pernah sedemikian bahagianya setiap mendengar namaku dipanggil demikian. Dan mungkin, karena karena itu pula lah, Tuhan kini memberikan sebagian sisa "paket" nya padaku: kesedihan dan luka yang luar biasa, tiap mendengar namaku dipanggil dengan cara demikian. Panggil saja,  "Yara". Aku senang memanggil diriku demikian, terdengar manis, cantik, lembut, dengan kesan sedikit imut tetapi tetap memiliki kesan kuat. Doaku mengenai diriku ...