Tentang yang ada dan berlalu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Hanya dengan diam mampu kuurai setiap rasa.
Cukup dengan diam, kupandangi kau yang berlalu.
Memandang siluetmu yang kian menjauh, nanar.


Kita tercipta, bukan untuk menyatukan makna.
Hanya dalam rasa, yang tampaknya takkan pernah terucap bahkan jika sang waktu pun tlah menyerah mempermainkan kita.


Penyair yang tlah mati, bangkit untuk guratkan takdir dengan tawa geli.
Pada selembar kertas, hanya karena tak pernah saling berbalas.


Satir.
Melodi.
Tragedi.
Apalah mereka menyebutnya.


Memutar kembali episode yang ada,
tak pernah ada kunci,
hanya persimpangan yang dapat kita temui.


Memilih,
berbeda,
tak pernah ada ujung yang mempertemukan masing masingnya.


Bila cinta mulai memainkan angkuhnya,
kesederhanaan ikut memilih berganti rupa menjadi kerumitan.


Kita sama,
hanya tak pernah ada kesamaan makna,
kamu pikir begini,
aku pikir begitu,
di saat ini, di saat itu.
Tak pernah ada kesamaan waktu.


Kita berbeda,
bukan dalam nyata.
Hanya dalam alam,
dimana ego menjadi nama Sang Penguasa.

Pikiran, hati.
Yang tersakiti, dan tak mau mencoba untuk mengerti, menanti sedetik saja, andaikata ego akhirnya mau
melepas tahtanya.


Aku makin tak mengerti,
mungkin kau juga makin tak memahami.
Berlari, mungkin cukup bagi kita sejauh ini.
Entah nanti.


Hahhh...
Nyeri itu tak kunjung pergi.
Bahkan ketika kata tlah mencoba mengusirnya.
Tampaknya, kata, guratan, belum cukup.
Lalu apa, pelukan?
Hahhh..makin merancu!


Tikk...tokk..tikk.,tokk...

Waktu?
Entah.
Lewat tengah malam, mata masih enggan terpejam.


Apalagi?
Benci.
Mungkin.
Sedih.
Mungkin.
Cinta.
Asumsikan saja bukan.
Biar enyah, biar pergi.
Lancang, ia bermain dengan waktu, untuk mempermainkan apa yang ada.


Andaikan pada saat itu.
kenapa tak pernah cepat?
Bila begini..apa yang pernah ada, hanya bisa sebatas ada.
Bukan tumbuh, bukan berbunga.
Biarkan tanah tetap menguburnya.
Dalam diam, dengan sederhana.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Cukup hanya jauh di dalam sana.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Beginilah caraku memaknai sederhana.
Walau mungkin sebenarnya aku memaknai kerumitan yang menanti di seberang sana.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Bila saja, kau berbesar hati menerimanya.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Cukup hanya jauh di dalam sana.
Terkubur, mati.
karenamu tak tepat waktu.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana......


Cukup hanya jauh di dalam sana...


-February, 2011-
By: Yara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Panggil saja, "Yara".